Apa Itu Depresiasi? Pengertian dan Bedanya dengan Amortisasi
Kalau kamu sedang belajar tentang akuntansi, keuangan, atau bahkan baru memulai bisnis, depresiasi adalah salah satu istilah yang sering muncul, bersamaan dengan amortisasi. Sebetulnya, kedua istilah ini sama-sama berhubungan dengan penyusutan nilai aset seiring berjalannya waktu. Namun, cara penggunaan keduanya berbeda. Nah, di artikel ini, kita akan membahas apa itu depresiasi, bagaimana cara kerjanya, serta apa bedanya dengan amortisasi. Yuk, simak sampai akhir!
Pengertian Depresiasi
Secara sederhana, depresiasi adalah penurunan nilai aset fisik seiring berjalannya waktu. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari penggunaan, usang, hingga berlalunya waktu. Contoh gampangnya begini, kamu punya usaha laundry dan membeli mesin cuci seharga Rp10 juta dengan umur manfaat 5 tahun. Setiap tahun, mesin cuci itu mengalami penurunan nilai karena dipakai terus.
Dalam dunia akuntansi, depresiasi bukan hanya tentang penurunan nilai di pasar, tetapi juga sebuah metode untuk mengalokasikan biaya perolehan aset selama masa manfaatnya. Dari contoh di atas, jangan lupa untuk mencatat nilai depresiasi aset sebesar Rp2 juta dalam laporan keuangan usaha. Cara ini membantu pengusaha untuk mengetahui berapa sih beban penggunaan aset sebenarnya di setiap periode akuntansi.
Manfaat Depresiasi
Mengapa menghitung depresiasi sangat penting? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba cek manfaat depresiasi berikut ini.
- Membantu Merencanakan Keuangan Jangka Panjang. Kalau kamu tahu kapan aset akan habis masa manfaatnya, kamu bisa mempersiapkan dana untuk menggantinya di masa depan.
- Mencerminkan nilai Aset yang Sebenarnya. Tanpa pencatatan depresiasi, nilai aset di neraca bisa terlihat terlalu tinggi. Dengan depresiasi, nilai aset jadi lebih realistis sesuai kondisi sekarang.
- Perencanaan Pajak. Menuliskan nilai depresiasi aset dalam laporan keuangan bisa menurunkan jumlah pajak yang harus dibayarkan.
Metode Depresiasi
Ada beberapa cara untuk menghitung depresiasi, masing-masing memiliki keunggulan dan skenario penggunaannya tersendiri. Dua metode yang paling umum adalah:
Metode Garis Lurus
Ini adalah metode yang paling sederhana dan paling sering digunakan. Beban depresiasi dihitung sama rata setiap tahunnya. Contoh, membeli mesin laundry sebesar Rp10 juta dengan umur 5 tahun. Beban depresiasi adalah Rp 2 juta per tahunnya.
Metode Saldo Menurun
Metode ini menghitung depresiasi lebih besar di tahun awal, setelah itu nilai depresiasi makin kecil di tahun berikutnya. Contoh paling mudah adalah mobil. Mobil baru umumnya mengalami penurunan harga sebesar 15-20% di tahun pertama setelah beli. Selanjutnya nilai mobil turun lebih pelan di tahun-tahun setelahnya.
Apa Itu Amortisasi?
Nah, sekarang kita masuk ke amortisasi. Kalau depresiasi berlaku untuk aset berwujud, amortisasi dipakai untuk aset tidak berwujud (intangible asset). Aset tidak berwujud contohnya seperti hak paten, lisensi, merek dagang, dan hak cipta. Amortisasi adalah alokasi biaya aset tidak berwujud selama periode manfaatnya. Misalnya, kamu punya lisensi software untuk 5 tahun seharga Rp50 juta. Kamu bisa mencatat beban amortisasi Rp10 juta setiap tahun selama 5 tahun.
Persamaan Depresiasi dan Amortisasi
Sebelum membahas perbedaan keduanya lebih jauh, ada baiknya kita lihat dulu persamaannya. Amortisasi dan depresiasi adalah dua cara yang sama untuk mengalokasikan biaya aset selama masa manfaat. Selain itu, keduanya juga perlu dicatat sebagai beban di laporan keuangan tahunan.
Di dalam laporangan keuangan, amortisasi dan depresiasi akan mengurangi nilai aset di neraca. Terkait metode perhitungan, depresiasi dan amortisasi sama-sama dapat dihitung menggunakan metode garis lurus atau metode saldo menurun.
Perbedaan Depresiasi dan Amortisasi
Jadi, pada dasarnya perbedaan utama antara amortisasi dan depresiasi adalah wujud asetnya. Depresiasi dipakai untuk menyatakan penurunan nilai pada aset berwujud seperti gedung, mesin, dan kendaraan. Sementara itu, amortisasi digunakan untuk menyatakan penyusutan nilai pada aset tak berwujud seperti hak paten, lisensi, dan merek dagang.
Perbedaan kedua terletak pada nilai sisa atau residual value. Depresiasi biasanya menghasilkan nilai sisa aset di akhir masa manfaat. Di sisi lain, amortisasi tidak memiliki nilai sisa.
Sekarang kamu sudah paham, kan? Depresiasi adalah penyusutan nilai untuk aset berwujud, sedangkan amortisasi adalah penyusutan nilai untuk aset tidak berwujud. Keduanya sama-sama penting dalam akuntansi karena membantu mencatat biaya aset secara adil dan akurat.
Nah, selain memahami penyusutan nilai aset, kamu juga perlu menjaga kesehatan finansial pribadi. Salah satu caranya adalah dengan rutin cek skor kredit. Skor kredit ini penting banget, apalagi kalau kamu berencana mengajukan pinjaman atau kredit di masa depan. Biar lebih gampang, kamu bisa langsung cek skor kredit lewat aplikasi SkorKu. Aplikasi ini siap bantu kamu memantau kondisi finansial kapan saja.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang tercantum pada bagian referensi. Skorku tidak bertanggungjawab atas keakuratan dan keterkinian informasi yang terkandung didalam artikel ini.
Referensi:
Pina. Diakses pada 2025. Apa Itu Depresiasi, Jenis, Contoh & Cara Menghitungnya.
OCBC. Diakses pada 2025. Apa Itu Depresiasi, Jenis, Contoh, & Cara Menghitungnya.
Bank Mega Syariah. Diakses pada 2025. Memahami Pengertian Depresiasi, Rumus dan Komponen Menghitungnya.
