cara-mengatasi-perilaku-impulsif-dalam-finansial

Bikin Bokek! Begini Cara Mengatasi Perilaku Impulsif Dalam Finansial

Pernah merasa menyesal saat habis belanja sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan? Perasaan menyesal itu muncul bisa jadi karena kamu terjebak perilaku impulsif dalam finansial. Saat kebiasaan impulsif dibiarkan terus-menerus, hal ini bisa membuat kondisi keuangan jadi berantakan, lho. Perilaku impulsif seringkali terjadi tanpa disadari.

Impulsif buying biasanya terjadi ketika seseorang melihat promo atau flash sale. Karena merasa fear of missing out atau FOMO terhadap promo tersebut, pada akhirnya mereka memutuskan belanja padahal sebenarnya barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

Nah, kalau kamu merasa relate banget dengan kondisi di atas, jangan khawatir. Pada artikel ini kita akan bahas tuntas terkait cara mengatasi perilaku impulsif dalam mengelola keuangan. Dengan begitu, kamu tidak terus-terusan terjebak dalam siklus “bokek mendadak”.

Apa Itu Perilaku Impulsif Dalam Finansial?

Perilaku impulsif dalam finansial adalah kebiasaan mengambil keputusan keuangan secara spontan tanpa perencanaan atau pertimbangan yang matang. Contohnya belanja barang karena tergoda diskon besar-besaran, padahal barang itu bukan termasuk kebutuhan utama.

Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti dorongan emosi, pengaruh visual, hingga diskon atau promo lain yang menarik. Sayangnya, perilaku impulsif seperti ini sering kali berujung pada penyesalan, penumpukan utang, dan gangguan terhadap rencana keuangan jangka panjang.

Ciri Seseorang dengan Kebiasaan Impulsif

Sebelum mengatasinya, kenali dulu ciri-ciri seseorang yang sering melakukan tindakan impulsif ketika belanja.

  • Sering belanja tanpa membuat daftar kebutuhan
  • Sulit menahan godaan promo atau diskon
  • Merasa senang saat belanja, tapi menyesal setelahnya
  • Punya banyak barang yang jarang atau tidak pernah dipakai
  • Gaji cepat habis padahal belum memenuhi kebutuhan utama

Kalau kamu merasa relate dengan kondisi di atas, berarti sudah saatnya kamu mulai mengambil langkah untuk memperbaikinya sebelum kondisi finansial memburuk.

Cara Mengatasi Perilaku Impulsif Dalam Finansial

Meskipun sulit, kamu bisa kok mengatasi kebiasaan belanja secara impulsif ini. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa kamu terapkan dan usahakan untuk melakukannya secara konsisten, ya!

1. Susun Anggaran dan Patuhi!

Langkah pertama yang paling penting adalah membuat anggaran keuangan. Susun daftar pengeluaran bulanan mulai dari kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, tagihan, hingga dana darurat. Setelah itu, tentukan alokasi untuk hiburan atau belanja di luar kebutuhan pokok.

Supanya mempermudah urusan budgeting, coba gunakan metode budgeting seperti 50/30/20 — di mana 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.

2. Buat Daftar Belanja

Pergi belanja tanpa menyusun daftar barang yang harus dibeli biasanya mampu memicu tindakan impulsif dalam berbelanja. Oleh karena itu, bebelum pergi berbelanja silakan buat daftar barang yang benar-benar kamu butuhkan. Saat di toko atau online,kamu harus fokus pada barang-barang di daftar tersebut. Ini akan membantumu dalam menghindari godaan di luar daftar.

3. Hindari Window Shopping Online Tanpa Tujuan

Scrolling aplikasi e-commerce atau media sosial tanpa tujuan bisa jadi pemicu utama belanja impulsif. Algoritma mereka dirancang untuk membuat kamu tergoda beli ini itu.  Jadi, kalau kamu memang tidak sedang belanja kebutuhan pokok, sebaiknya hindari buka aplikasi belanja online.

4. Catat Semua Pengeluaran

Mencatat pengeluaran sekecil apa pun bisa membantu kamu menyadari ke mana perginya uangmu setiap bulan. Dengan begitu, kamu akan lebih waspada dan berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Kamu bisa gunakan aplikasi pencatat keuangan yang banyak tersedia gratis atau cukup dengan mencatat manual di notes HP-mu. Yang penting, konsisten!

5. Identifikasi Pemicu Impulsif

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan menggali akar penyebab kebiasaan belanja impulsif. 

Cobalah untuk mengenali kapan dan mengapa kamu cenderung berbelanja impulsif. Apakah saat stres? Bosan? Atau mungkin setelah melihat postingan teman di media sosial?

Setelah kamu mengidentifikasi pemicunya, cari solusi untuk mengatasinya. Kalau alasannya karena bosan, coba cari kegiatan lain yang lebih sehat dan tidak menguras dompet seperti membaca buku atau melakukan hobi yang kamu sukai.

6. Fokus Pada Tujuan Finansial Jangka Panjang

Ingatkan diri kamu tentang tujuan finansial yang lebih besar. Apakah kamu ingin membeli rumah? Menyiapkan pendidikan anak? Atau mengumpulkan dana pensiun? Setiap kali kamu tergoda untuk berbelanja impulsif, bayangkan bagaimana jika uang tersebut lebih baik disimpan agar bisa membawamu lebih dekat untuk mencapai tujuan tersebut.

7. Hati-Hati dengan Kartu Kredit

Kalau kamu memiliki kartu kredit, pastikan menggunakannya secara bijak. Kemampuannya dalam memberikan kemudahan dalam transaksi terkadang membuat seseorang mudah terlena dan spontan dalam berbelanja. Ingat juga bahwa kartu kredit bisa menyebabkan utang menumpuk, kalau kamu tidak punya kendali untuk membatasi penggunaannya.

Mengatasi perilaku impulsif dalam finansial memang membutuhkan kesadaran, disiplin, dan kesabaran. Namun, dengan menerapkan strategi-strategi di atas secara konsisten, kamu bisa perlahan-lahan mengubah kebiasaan buruk ini dan membangun fondasi finansial yang lebih kuat.

Ingat, setiap langkah kecil menuju pengelolaan uang yang lebih baik adalah investasi untuk masa depan finansial yang lebih cerah. Kalau kamu ingin tahu seberapa sehat kondisi keuanganmu saat ini, kamu bisa pantau skor kredit milikmu secara berkala. Download aplikasi SkorKu sekarang juga untuk dapatkan informasi skor kredit terbaru, ya

Referensi:

“6 Cara Agar Tidak Terjebak Impulsive Buying” DBS Digibank. 20 Juli 2023.

“Impulsif Belanja? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya” Sahabat Pegadaian. 31 Agustus 2024.

“Faktor Yang Mempengaruhi Impulse Buying Konsumen Saat Moment Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)” Yuniarti Yenny, dkk. 1 April 2021.